Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

November 13, 2008

Peran Baru Manajemen Proyek di Abad 21

American Airlines memberikan jasa pemesanan karcis kepada suatu perusahaan yang juga digunakan perusahaan penerbangan pesaing dalam menarik penumpang. Di Indonesia, PT Abadi Nusa Usaha Semesta, menjadi pemasok bulb bagi perusahaan tensimeter di Eropa yang juga menjadi pesaingnya dalam memperebutkan bagian pasar produk tensimeter di Amerika. Kita memang sedang memasuki zaman baru, dengan salah satu cirinya yaitu peralihan dari integrasi vertikal menuju spesialis. Selama dasawarsa terakhir, perusahaan-perusahaan sibuk melepaskan kegiatan-kegiatan tak penting yang dapat dikontrakkan ke luar. Kebanggaan konglomerat menguasai hulu hilir, sudah berubah menjadi kebanggaan memiliki unit usaha yang ramping, fleksibel, namun kompeten dalam bidangnya. Dengan demikian, keberhasilan operasional perusahaan akan sangat bergantung kepada keberhasilan kerja sama antara unit usaha dalam perusahaan-perusahaan tersebut dengan unit usaha dari perusahaan lain dalam pelaksanaan pekerjaan.

Setiap unit usaha, dalam kondisi di atas, akan merupakan bidang kompetensi dari suatu perusahaan yang akan bekerja sama dengan berbagai perusahaan lain dalam menciptakan berbagai produk. Sifat pekerjaan menjadi berubah, dari produksi/operasi rutin menjadi proyek.

LOYALITAS BARU

Dampak dari situasi ini pada karyawan adalah munculnya loyalitas bentuk baru: dari perusahaan ke proyek. Pada perusahaan tradisional, kesepakatan atau komitmen dibuat antara individu dan perusahaan sehingga diharapkan karyawan akan setia kepada majkannya. Organisasi baru yang lebih ramping tadi, harus bekerja sama dengan berbagai unit usaha dari perusahaan lain dalam proyek-proyek yang menjadi target bersama. Akibatnya, ikatan emosi antara karyawan dengan perusahaannya lebih renggang, dan sebaliknya, hubungan dengan profesinya/teman sesama proyek menjadi lebih erat. Para profesional akan bekerja keras, proyek demi proyek, dan mempertahankan mutu yang tinggi, tetapi mereka juga memperoleh kepuasan kerja dan identitas diri dari bidang yang mereka geluti, dan tidak lagi terlalu menggantungkan diri pada ikatan dengan perusahaaan.

Kata proyek di sini menunjuk pada sifat pekerjaan. Suatu pekerjaan akan dikatakan proyek jika memiliki karakteristik sebagai berikut: memiliki keluaran (output) spesifik, melibatkan banyak pihak dan bidang keahlian, dibatasi oleh waktu (ada saat awal dan ada saat akhir), merupakan kegiatan yang "kompleks" penuh faktor ketidakpastian dan risiko, dan mempunyai siklus hidup (life cycle).

Merujuk pada karakteristik di atas, manajemen proyek yang dalam pengertian awam - selalu dikaitkan dengan manajemen terhadap proyek konstruksi - menjadi tidak relevan lagi. Jelasnya, pengetahuan dan keterampilan dalam manajemen proyek akan menjadi tuntutan yang harus dimiliki oleh semua manajer di Indonesia, kalau mau masuk jalur global. Misalnya, saat seorang manajer memimpin kegiatan perancangan dan peluncuran produk baru - yang akan melibatkan lintas fungsional, mulai R&D, produksi, pemasaran, keuangan dan sebagainya - mau tidak mau ia harus menggunakan teknik manajemen proyek.

Meskipun situasi ekonomi Indonesia saat ini sedang tiarap, ada baiknya para manajer mulai mengkaji, kalau situasi kembali pulih dan dunia bisnis (ada kemungkinan) dikuasai oleh pemain asing, pada tingkat (level) manajemen proyek seperti apa yang bersangkutan dapat berpartisipasi. Hal ini perlu, sebab tiap level dalam manajemen proyek memiliki ruang lingkup tanggung jawab yang berbeda-beda.

MANAJEMEN PROYEK

Manajemen, secara sederhana, dapat diartikan sebagai proses pencapaian sasaran bersama dan melalui orang lain. Dalam mencapai sasaran tersebut, dunia mengenal tiga level manajemen proyek: Manajemen "Misi Proyek" (Project Mission Management), Manajemen Proyek (Project Management), dan Manajemen Lapangan (Field Management). Levelling ini dibuat untuk membedakan tugas dan kompetensi yang dituntut penyandangnya, meskipun secara profesional ketiganya menyandang gelar manajer.

Fungsi utama Manajemen Misi Proyek (MMP) adalah melakukan manajemen terhadap suatu misi proyek, jadi bukan semata-mata menyelesaikan proyek tepat waktu, dengan biaya terbatas, dan mutu memadai. Pemimpin Proyek "Pengembangan Produk Baru" dengan misi meningkatkan citra perusahaan, tidak akan berhenti pada terbuatnya produk baru saja, tetapi akan dilanjutkan dengan usaha-usaha peningkatan citra perusahaan melalui produk baru tersebut. Dalam praktek, MMP ini mewakili unsur pemilik proyek (owner), sehingga akan lebih banyak melakukan interaksi dan koordinasi tugas-tugas dan tanggung jawab pemilik, konsultan, dan pelaksana. Pemegang peran MMP harus mampu menciptakan persetujuan (dalam bentuk kontrak) mengenai hubungan kerja antara satu dengan yang lain secara detail dari proyek yang akan dibangun. Jadi, keluaran (output) seorang pemegang mandat MMP adalah kontrak dan kepatuhan para pihak (konsultan, pelaksana dan pemilik) dalam melaksanakan kontrak tersebut.

Manajemen Proyek (MP) lebih menitikberatkan pada bagaimana para pihak yang terlibat dalam pelaksanaan proyek menyelesaikan tugasnya. Dalam hal ini, proses perencanaan dan pengorganisasian proyek, pemantauan dan manajemen aliran sumber daya yang mendukung pelaksanaan proyek menjadi perhatian utama.

Pada tahap pelelangan, MP meliputi perencanaan pekerjaan, estimasi biaya, serta analisis finansial dan risiko dari proyek. Sedangkan setelah pelelangan, MP terdiri atas penjadwalan, pembelian, pengadaan dan mobilisasi semua sumber daya yang diperlukan untuk memulai dan mempertahankan pekerjaan konstruksi. Pada tahap akhir ini, MP termasuk juga memantau status dan kemajuan proyek, persiapan laporan kemajuan dan klaim termijn serta manajemen cash-flow.

Fungsi utama Manajemen Lapangan (ML) adalah mengolah sumber daya yang tersedia dalam operasi proyek sehari-hari pada tingkat lapangan, sehingga rencana pelaksanaan yang telah disusun pada level yang lebih tinggi dapat diimplementasikan secara teratur, efisien dan efektif. Level ML berfokus pada detail teknis dari metoda pelaksanaan proyek dengan mempertimbangkan keterbatasan kapasitas peralatan. Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam manajemen lapangan adalah: perencanaan, penjadwalan, mobilisasi, dan pengarahan aktivitas kegiatan berdasarkan ketersediaan tenaga kerja, peralatan dan material.

PENUTUP

Tuntutan untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan manajemen proyek bagi para manajer akan meningkat di masa datang. Tuntutan ini tidak terbatas pada manajer yang bergerak dalam industri konstruksi saja, tetapi melingkupi segenap industri yang ada, sebab sifat perkerjaan akan berubah dari operasi rutin menjadi proyek.

Untuk itu, para manajer perlu memahami dan mengantisipasi peran apa yang akan dilakukan dalam masa mendatang. Peran tersebut sangat tergantung pada level manajemen proyek yang akan dijalaninya, yang pada gilirannya akan menuntut tingkat kompetensi yang berbeda.

Pemahaman terhadap ruang lingkup tugas dan tanggung jawab dari masing masing level manajemen proyek akan sangat membantu para manajer dalam memilih jenis pengetahuan dan keterampilan yang harus segera dikuasainya dalam menyongsong zaman baru. Suatu zaman yang penuh goncangan, perubahan, dan ketidakpastian yang hanya dapat dijawab oleh manajemen proyek.

PPM Institute of Management - Management Development Centre
Oleh: Ir. Bambang Adi Subagiyo, MM

November 11, 2008

Menanti Pemimpin yang Pro Rakyat

PEMILU Presiden 2009 tinggal dalam hitungan bulan. Banyak tokoh menunjukkan kesungguhan untuk maju dalam persaingan RI-1 2009.

Beberapa merupakan orang lama. Akhirnya belakangan ini muncul isu tentang dibutuhkannya para pemimpin alternatif. Isu semacam itu sangatlah wajar mengingat hingga saat ini belum ada pemimpin rakyat yang bisa menjawab berbagai macam persoalan yang ada di negeri ini. Figur-figur alternatif memang belum dikenal luas, tapi ini tidak boleh jadi alasan untuk tidak melakukan terobosan atas kebuntuan dalam regenerasi kepemimpinan nasional. Para figur ini paling tidak menawarkan alternatif dan harapan.

Mungkin mereka akan bisa menjadi jawaban bagi rakyat republik ini yang sudah kadung gandrung jadi golongan putih (golput). Kompleksitas persoalan bangsa sekarang ini juga sering dikaitkan dengan lemahnya kepemimpinan di level nasional maupun lokal. Pascakemerdekaan, sulit menemukan kepemimpinan yang mampu membawa seluruh komponen bangsa bersatu mewujudkan kepentingan nasional sekaligus memiliki visi kuat menangani persoalan negara/bangsa yang amat kompleks ini. Realitas ini bisa dipahami.

Pemimpin masa lalu lahir dari rahim idealisme perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan,pemimpin sekarang umumnya lahir dari rahim zaman pragmatisme plus karbitan. Sebagian dari mereka bahkan bertipe politisi yang lain kata, lain pula perbuatan. Kecenderungan global saat ini pun sedang terjadi arus pergeseran kepemimpinan politik dari "generasi tua" dalam arti pernah memiliki track record dengan status quo kepada "generasi muda" yang memiliki skema ideologi yang lebih progresif dan nasionalis.

Bisa dilihat di bagian bumi yang lain, seorang Evo Morales yang menjadi presiden pada 2005 dalam usia 46 tahun berhasil dengan program penasionalan aset minyak dan gas (migas) yang membuat ekonomi Bolivia tumbuh pesat dalam skema program keadilan sosial. Hugo Chavez (55) berhasil mengatrol posisi Venezuela di Amerika Latin dalam pembaruan multiprogram sosial-ekonomi dan tidak lagi bergantung pada kepentingan negara-negara Barat.

Di AS, kehadiran sosok Barack Obama menjadi magnet bagi wacana kepemimpinan muda dengan visi baru yang membangkitkan gairah nasionalisme AS yang humanis. Maka, jangan salahkan rakyat ketika politisi berteriak soal kepentingan bangsa dan negara, rakyat tak serta-merta percaya begitu saja.

Permasalahan yang mendasar dari sebuah kepemimpinan nasional terletak pada komitmen untuk benar-benar berpihak kepada rakyat sehingga mampu membawa Indonesia menjadi lebih baik. Rakyat sudah tidak bisa dibohongi lagi, rakyat sudah belajar! (*)

Opini oleh Arina Sofia Yarlis
Mahasiswa Jurusan Ilmu Keperawatan
Universitas Gadjah Mada

Oktober 28, 2008

Ayo Kobarkan Semangat "Soempah Pemoeda"

Hari ini kita bangsa Indonesia memperingati hari dimana sumpah yang diikrarkan para pemuda yang tergabung dalam berbagai ‘joung’ pada 28 Oktober 1928 ikut menandai sejarah perjalanan bangsa ini.Semangat baru ini dikobarkan para pemuda di tengah masa penjajahan. Tujuannya satu, mencapai cita-cita kemerdekaan.

Pada 28 Oktober 1928 inilah Kongres Pemuda II: Deklarasi Sumpah Pemuda di Gedung Kramat 106; Indonesia Raya dikumandangkan untuk pertama kalinya.

Aneka peristiwa mewarnai pejuangan yang sangat bersejarah itu. Antara periode tersebut selalu ditandai dengan semangat perjuangan dengan mendepankan persatuan, kesatuan dan tujuan kemerdekaan. Pada saat itu, orang berbicara tentang pentingnya kesatuan, karena melihat kondisi kehidupan masyarakat terpecah-pecah oleh kolonialisme Belanda.

Saat dicetuskan, Sumpah Pemuda didasari keinginan memiliki satu bangsa, satu bahasa dan tanah air. Tak ada tercetus niat membentuk satu negara, karena penjajahan menjadikan niat ini sebagai satu hal “tabu” dan terlarang.

Sekedar menyegarkan ingatan kita kembali akan sumpah yang diucapkan oleh pemuda bangsa yang berbunyi:

PERTAMA. " Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia".
KEDOEA. "Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia".
KETIGA. "Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia".




Saat kini, kita merenungi kembali makna Sumpah Pemuda dengan jiwa dan semangat kebangsaan serta keinginan bersatu yang tinggi. Tapi, apakah ikatan kita sebagai sebuah bangsa sudah kuat dan kokoh. Ini perlu jadi renungan para tokoh bangsa saat ini.

Ketika tanah air ini aman-aman saja, apakah semangat nasional jadi luntur, semangat kebangsaan ikut memudar? Demokrasi yang kita jalani sekarang bisa memberikan berbagai dampak positif dan negatif, apabila tak diikuti dengan kesadaran semangat kebangsaan yang tinggi. Tentu saja demokratisasi tidak membuat kita terpecah. Mungkin, terpecah dalam suatu pandangan dan sikap politik, jangan sampai merembes pada rasa nasionalisme dan kebangsaan.

Tidak ada demokrasi tanpa nasionalisme. Juga sebaliknya. Apakah bisa demokrasi menguat saat nasionalisme akan luntur? Nasionalisme dan kebangsaan kita tempatkan pada satu posisi, demi keutuhan bangsa dan negara. Demokratisasi kita jadikan alat perjuangan untuk memujudkan harapan-harapan yang dicitakan untuk mencapai kemakmuran.

Semangat dan jiwa Sumpah Pemuda perlu digelorakan kembali dalam jiwa kaum muda sekarang. Masa depan bangsa ini terletak pada etos kerja dan semangat kaum muda. Dalam sejarah bangsa manapun di dunia , kaum muda tetap menduduki posisi penting pada setiap perubahan tatanan sosial. Ini juga terjadi di Indonesia. Arah dan perjuangan bangsa terletak pada sikap kritis dari kaum muda.

Kaum muda adalah harapan seluruh warga, sama dengan harapan di masa lalu, saat Sumpah Pemuda dikumandangkan. Gelora dan semangat kaum muda juga dituntut di masa sekarang, tapi dalam bentuk lain, dengan tujuan memperbaiki kondisi ekonomi bangsa dan menyejahterakan rakyat.

Ayo...pemuda bangsa berjuanglah demi kemajuan bangsa !

Oktober 27, 2008

UT termasuk 5 PTN Kelas Dunia

YOGYAKARTA, (Pikiran Rakyat, 27-05-2007).

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai, perlunya meningkatkan mutu pendidikan tingkat perguruan tinggi. Pemerintah memberikan prioritas mendorong pendidikan tinggi agar mampu bersaing dan masuk dalam peringkat pendidikan tinggi berkelas internasional atau World Class University.

"Kita berkeinginan, agar sampai tahun 2009, paling tidak 10 perguruan tinggi akan mampu masuk dalam daftar World Class University," ujarnya. Pada tahun 2006, tercatat lima perguruan tinggi (PT) di Indonesia masuk dalam jajaran universitas berkelas dunia, yaitu UI, ITB, UGM, UNDIP, dan Universitas Terbuka (UT).

Menurut presiden, semua pihak harus turut serta menyukseskan upaya meningkatkan mutu pendidikan di tanah air. ”Bangsa Indonesia tidak akan maju apabila pendidikannya tidak bermutu,” ungkap SBY ketika menghadiri puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Taman Siva pelataran Candi Prambanan Yogyakarta, Sabtu (26/5).

"Kita tidak bisa tampil terhormat dan menang dalam kompetisi global kalau mutu pendidikan kita kalah (dibandingkan) dengan mutu pendidikan negara-negara lain. Mari bersama-sama kita sukseskan upaya meningkatkan mutu pendidikan di negeri ini," tegas presiden.
Pada acara yang dipadukan dengan refleksi satu tahun gempa bumi di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah itu hadir antara lain Ibu Negara Ny. Ani Yudhoyono, Ketua MPR Hidayat Nurwahid, Menko Perekonomian Boediono, Mendiknas Bambang Sudibyo, Menteri PU Djoko Kirmanto, dan Menkes Siti Fadilah Supari, serta ribuan warga masyarakat DI Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Sebelumnya, Yudhoyono mengajak untuk merenungkan kembali relevansi ajaran dan falsafah pendidikan yang telah diwariskan Ki Hajar Dewantara. Semangat dan perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, telah memberikan inspirasi yang tidak pernah kering, serta memberikan dorongan dan suri teladan bagi generasi penerus.
Menurut dia, visi pembangunan pendidikan nasional adalah mewujudkan sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas. "Visi ini bertujuan untuk mencetak manusia Indonesia yang mampu bersikap proaktif, tidak menunggu, tidak pasif dalam menjawab tantangan zaman yang selalu berubah," katanya.
Dalam kaitan tersebut, presiden menyatakan, menyambut gembira visi ke depan pendidikan nasional agar tahun 2025, dapat dihasilkan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif. Yaitu, insan yang cerdas secara spiritual, cerdas secara emosional, cerdas secara sosial, dan cerdas secara intelektual.

"Insan yang cerdas dan kompetitif adalah aset bangsa, kekuatan bangsa yang penting dalam menghadapi tantangan global, yaitu masyarakat yang berbasis pengetahuan (knowledge based society)," jelasnya.
Pendidikan memainkan peranan yang penting dalam membangun karakter manusia. Dalam konteks kehidupan kebangsaan misalnya, pendidikan memiliki peran penting, yaitu sebagai sarana untuk membina jati diri bangsa, memupuk karakter, dan memperkuat wawasan kebangsaan.

Presiden menuturkan, untuk mencapai tujuan-tujuan pembangunan nasional bidang pendidikan, sesuai dengan amendemen ke-4 UUD 1945, telah disepakati untuk memprioritaskan 20 persen dari APBN dialokasikan untuk pendidikan. "Kita sadar sepenuhnya tentang betapa pentingnya pendidikan terhadap kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Pendidikan berkaitan dengan masa depan kita, pendidikan berkaitan dengan nasib anak cucu kita, pendidikan berkaitan dengan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia," katanya.

Diungkapkan Yudhoyono, dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, pemerintah telah memberikan perhatian yang amat serius untuk menyediakan anggaran bagi sektor pendidikan. Pada APBN 2004, anggaran pendidikan baru Rp 21,4 triliun. APBN 2007 menyediakan anggaran Rp 50,019 triliun, atau dua kali lipat lebih dibandingkan 2004.
"Kenaikan ini memang belum memenuhi besaran sebagaimana diamanatkan dalam amendemen UUD 1945. Namun, pemerintah bersama-sama DPR akan terus berupaya untuk menaikkan anggaran pendidikan guna memenuhi amanat UUD 1945 dan amanat UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional," katanya.

Pada acara kemarin, presiden juga berkesempatan menganugerahkan penghargaan "Satya Lancana Pendidikan", yaitu kepada Supriyanto M., M.Pd. (guru SMPN Unggulan Sindang Indramayu, Jawa Barat) dan Delvitia (guru SDN 07 Tanah Koto Sungai Puak Sumatra Barat). Keduanya dinilai sebagai guru berprestasi.
Sedangkan Ismail Tihurua, S.Ag. (guru SD Inpres Ruhua Maluku Tengah) dan Syamsiah, M.Pd. (guru SDN 010 Air Tamiang Natuna Kepulauan) sebagai guru berdedikasi, yang bertugas di daerah khusus/terpencil.

Sebelumnya, Anugerah Widyakrama diserahkan kepada 12 kepala daerah, termasuk tiga gubernur, yaitu Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Gubernur Sumatra Utara (Sumut), dan Gubernur Jawa Timur. Widyakrama juga diberikan kepada 5 wali kota dan empat bupati yang dinilai telah berhasil menuntaskan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 tahun, yaitu Wali Kota Cirebon, Wali Kota Solok, Wali Kota Lhokseumawe, Wali Kota Langsa, Wali Kota Bandar Lampung, Bupati Jembrana, Bupati Samosir, Bupati Karang Anyar, dan Bupati Minahasa Selatan.

Selanjutnya, penghargaan Anugerah Swaka Viraya Raha diberikan kepada almarhum Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri (mantan Rektor UGM), yaitu sebagai perintis Kuliah Kerja Nyata (KKN), yang diterima oleh ahli warisnya, Nina Soetarina Koesnadi. (A-94/A-99)

Oktober 25, 2008

Laskar Pelangi



Kisah Tentang 10 Murid Sekolah Dasar Muhamaddiyah di Sebuah Daerah terencil yang bernama Belitong, Sumatera Selatan, yang beberapa waktu lalu sudah di film kan oleh sutradara terkenal Riri Reza. Ini adalahlah Video yang mengupas tentang Kisah tersebut dalam sebuah acara di stasiun TV Swasta yang cukup diminati banyak pemirsa sebelum difilmkan "Kick Andy". Cukup banyak pula orang yang terinspirasi setelah membaca buku Laskar Pelangi ini, mulai dari anak yang tadinya bandel pemakai narkoba bisa berubah dan sembuh total dari ketergantungan sehingga menjadi orang yang bersyukur, ada juga seorang dokter yang tadinya berharap setelah lulus PTT bisa diangkat jadi pegawai negeri sipil (PNS) tapi setelah membaca buku Laskar Pelangi terinspirasi tidak lagi berharap menjadi PNS malahan membuka tempat praktek sendiri dan masih banyak kisah lainnya. Silahkan lihat video dibawah ini

Video Bagian 1


Video Bagian 2


Video Bagian 3


Video Bagian 4


Video Bagian 5


Video Bagian 6


Setelah menonton video diatas, semoga bisa memberikan kita semua inspirasi yang positif tentang hidup dan kehidupan ini dengan satu kata "Cinta"